Artikel

Mengenal dan Mewaspadai Ganja Sintetik (Synthetic Cannabinoids)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Penyalahgunaan narkoba semakin lama semakin berkembang, tidak hanya dalam jumlah pengguna atau pecandunya saja, namun juga dalam jenis narkoba yang digunakan. Jika pada sekitar tahun 1990 hingga 2000, lebih banyak orang yang memakai heroin atau putaw yang sifatnya downer, maka terjadi pergeseran tren pada tahun 2000 ke atas mengalami pergeseran. Lebih banyak orang yang menggunakan narkoba berjenis stimulan, terutama amphetamine type stimulan (ATS).

Awalnya, ATS terbatas pada jenis Shabu (Crystal Methamphetamine) dan Inex (ectasy / MDMA). Namun, aturan hukum yang ketat di berbagai negara memaksa para produsen berpikir keras untuk menghindari celah hukum. Para produsen kemudian menciptakan narkoba jenis baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan New Psychoactive Substances (NPS).

Merujuk pada United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC), istilah NPS sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk narkoba yang benar-benar baru. NPS juga ditujukan untuk zat yang sudah lama ada tetapi marak digunakan akhir-akhir ini dan belum tercantum dalam konvensi PBB tentang narkotika maupun psikotropika.

UNODC melaporkan pertumbuhan yang cepat dari NPS. Pertumbuhannya tercatat sebanyak 166 jenis pada tahun 2009, kemudian meningkat menjadi 250 jenis pada tahun 2012, dan 350 jenis NPS pada tahun 2013. European Monitoring Center for Drugs and Drugs Addiction (EMCDDA) juga melaporkan pertumbuhan NPS yang signifikan. Tercatat, ada 101 jenis NPS pada tahun 2014. Hingga bulan Maret 2015, jumlahnya terpantau meningkat menjadi lebih dari 450 jenis NPS di Eropa.
 
Mengenal Ganja Sintetik (Synthetic Cannabinoids/SC)

Salah satu NPS yang menjadi tren adalah Synthetic Cannabinoids (SC). Dalam World Drugs Reporttahun 2014, UNODC mencatat bahwa peningkatan tren Synthetic Cannabinoids adalah 50% dari zat-zat baru yang terdeteksi. Data yang masuk dalam Early Warning System EMCDDA menyebutkan, terdapat 30 jenis SC baru yang terdeteksi pada tahun 2014. Pada tahun 2015, telah terdeteksi lebih dari 137 jenis SC.

Kebanyakan SC dikonsumsi dengan cara dirokok. Karenanya, SC akan diabsorbsi oleh paru-paru dan kemudian disebarkan ke organ lain terutama otak. Absorbsi oleh sistem pencernaan dimungkinkan jika SC dikonsumsi secara oral.

Studi yang dilakukan oleh Winstock dan Barrat (2013) melaporkan bahwa SC mempunyai onset yang lebih cepat dari ganja alami. Onset dicapai dalam waktu 5 menit. Durasi aksinya akan berlangsung selama kurang lebih 1 jam.

Karakteristik pengguna SC paling banyak adalah laki-laki dengan usia remaja hingga dewasa muda dengan median usia adalah 26 tahun. Kebanyakan orang menggunakan SC karena penasaran. Mereka ingin mendapat efek yang sama dengan ganja tanpa terdeteksi tes urin yang ada pada saat ini. Banyak pengguna SC dilaporkan juga merupakan pengguna ganja dan alkohol.

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN) telah berhasil mendeteksi 36 jenis NPS yang masuk dan beredar di Indonesia. Dari 36 jenis NPS itu, 8 diantaranya adalah jenis SC. Jenis-jenis SC yang berhasil terdeteksi oleh BNN adalah sebagai berikut: JWH-018, XLR-11, 5-fluoro AKB 48, MAM 2201, FUB-144, AB-CHMINACA, AB-FUBINACA, dan CB-13. Kebanyakan SC akan berikatan dengan reseptor cannabinoid CB1, meskipun terdapat juga SC yang berikatan dengan kedua reseptor cannabinoid CB1 dan CB2, seperti CB-13.

SC mempunyai banyak varian dan nama, sering kali dijual dalam bentuk sachet berisi bahan campuran herbal, yang digunakan dengan cara dirokok. Nama-nama jalanan yang sering ditemui adalah Spice, K2, Skunk, Moon, Yukatan Fire, Gorrilaz, Good Shit, Fake Weed, Chicken Run, Sakana, dll.
SC juga dijual dalam bentuk tablet, resin, bahkan cair yang dikonsumsi memakai rokok elektrik. Bahan-bahan herbal yang sering digunakan dalam campuran SC adalah sebagai berikut:


 
Sumber: EMCDDA (2009): Understanding the “Spice“ Phenomenone

 
SC bukanlah turunan dari delta-9-tetrahidrocannabinol (THC), namun merupakan zat sintetik yang dibuat sebagai agonis reseptor cannabinoid (CB) dan mempunyai potensi yang lebih kuat dari THC. SC pertama kali diproduksi sekitar 40 tahun yang lalu dan ditujukan untuk keperluan pengobatan, terutama untuk pengobatan nyeri. Setelah THC dapat diisolasi pada tahun 1960, beberapa SC yang diproduksi terbagi dalam empat golongan besar, yaitu:

  • Analog THC, disebut juga classical cannabinoids, berbasis cincin dibenzopyran. Termasuk didalamnya adalah HU-210, Nabilone, dan Dronabinol.
  • Golongan Cyclohexylphenol (CP) atau Non Classical Cannabinoids, yang dikembangkan oleh Pfizer pada tahun 1970. Contoh yang termasuk dalam golongan ini adalah CP 59,540, CP 47,497 dan n-alkyl homolognya.
  • Golongan napthoylindoles, naphthylmethylindoles, naphthoylpyrroles, naphtylmethylindenes, dan phenylacetylindoles (dikenal dengan sebutan aminoalkylindoles atau komponen JWH) yang diproduksi oleh J.W.Huffman pada tahun 1990-an. Contohnya adalah JWH-015, JWH-018, JWH-073, JWH-398, JWH-250.
  • Miscellaneous, termasuk didalamnya adalah fatty acid amides contohnya adalah oleamide.

American Association Poison Control Center melaporkan banyak kejadian yang berhubungan dengan penggunaan SC di Unit Gawat Darurat. Manifestasi dari efek samping penggunaan SC mulai dari gangguan psikiatri seperti psikosis, agitasi, agresi, cemas, ide-ide bunuh diri, gejala-gejala putus zat, bahkan sindrom ketergantungan. Selain itu, ditemukan kasus-kasus stroke iskemik akibat SC, hipertensi, takikardi, perubahan segmen ST, nyeri dada, bahkan infark miokardium. Gagal ginjal akut juga pernah dilaporkan berhubungan dengan pemakaian SC, gejala lain yang dapat ditemui mual, muntah, bahkan kejang. Gejala putus zat dan ketergantungan dilaporkan pada orang yang mengkonsumsi SC sebanyak 3 gram/hari. Kasus kematian akibat SC juga pernah dilaporkan, diantaranya adalah akibat pemakaian MAM-2201 (Saito, 2013), JWH-210 (Konstrand, 2013), JWH-018, AM694, AM2201 (Wikstrom, 2013), dan AM2201 (Pattron, 2013).

Perubahan pola interaksi masyarakat yang lebih terbuka melalui internet mengharuskan kita selalu waspada terhadap penyebaran SC. Begitu juga edukasi terhadap masyarakat untuk selalu kritis pada hal-hal baru. Menimbang efek positif dan negatif yang mungkin timbul juga sangat penting untuk dilakukan sehingga masyarakat–utamanya para remaja–dapat membuat keputusan yang benar, tidak begitu saja mengikuti tren tanpa berpikir panjang.
 
*diadaptasi dari Poster Ilmiah penulis yang berjudul Synthetic Cannabinoids: Tantangan Baru Kedokteran Adiksi, dan dipresentasikan dalam 1st National Conference on Addiction Psychiatry, Malang 10-12 Oktober 2015
Sumber gambar: ScoopWhoop
Sumber: Hari Nugroho https://www.selasar.com/jurnal/32709/Mengenal-dan-Mewaspadai-Ganja-Sintetik-Synthetic-Cannabinoids




apa yang di butuhkan untuk mendapatkan pemateri dari BNN?

07 November 2017

Pengirim: thoriq,  Uraian pertanyaan:slamat pagi tanpa mengurangi rasa hormat, mohon bimbingannya. nama thoriq asal dari UNY. dalam menyambut Hari Anti Narkoba Internasional yang jatuh tanggal 26 Juni 2013 akan datang. kami mau mengadakan seminar. tujuan sosialisasi P4GN terhadap Mahasiswa". 1....

P4GN dapat dibagikan softcopynya?

07 November 2017

Pengirim: Drs. Gathot Wardoyo, Uraian pertanyaan:Kami Kader P4GN di SMP Negeri 3 Berbah, menerima panduan Pemberdayaan Sekolah dalam mewujudkan sekolah bebas dari Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba tahun 2013, Sekiranya berkenan mohon dikirim soft copy panduan tsb melalui email saya. Tr...

Frequently asked questions (FAQ)

07 November 2017

Apa Kepanjangan dari BNNP DIYJawab : Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta  Apa yang dimaksud dengan NarkobaJawab : Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Berbahaya Lainnya. Apa itu Rehabilitasi ?Rehabilitasi adalah proses pemulihan pada ketergantungan penyalahgunaan narkoba (pecandu) secara komprehensif meliputi aspek biopsikososial dan spiritual sehingga memerlukan waktu lama, kemauan keras, kesabaran, konsistensi, dan pembelajaran terus-menerus.Dengan adanya Klinik Pratama SEGER Waras diharapkan dapat mempermudah pengguna narkoba untuk mendapatkan akses pelayanan rehabilitasi untuk menjadi pulih dan tidak kambuh kembali. Layanan apa saya yang ada di klinik seger waras?Jawab:• Konseling individu• Konseling adiksi• Psikoterapi• Evaluasi psikologi• Psikoedukasi• Terapi kelompok (group therapy)• Konseling keluarga• Terapi simptomat...

KONTAK KAMI

Jln. Brigjen Katamso Komplek Perkantoran (Selatan Purawisata) Yogyakarta

Telp: 0274) 385 378

bnnp_diy@bnn.go.id

www.yogyakarta.bnn.go.id

STATISTIK PENGUNJUNG

9302
Pengunjung Hari ini :Pengunjung Hari ini :17
Pengunjung Kemarin :Pengunjung Kemarin :163
Pengunjung Minggu ini:Pengunjung Minggu ini:720
Pengunjung Bulan ini:Pengunjung Bulan ini:2589
TotalTotal9302
Copyright ©2018 BNNP DIY. Modified by Hammus Creative Land

Search