Pemberantasan

Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat

Terkini





Rabu, 2 September 2020

BNNP DIY Lakukan Sosialisasi Zona Integritas di BNN Kota Yogyakarta

Yogyakarta (02/09). Dalam rangka pembangunan Zona Integritas untuk mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di jajaran BNNP DIY, BNNP DIY melakukan sosialisasi Pembangunan Zona Integritas kepada BNN Kota Yogyakarta. Acara Sosialisasi dipimpin langsung oleh Kepala BNNP DIY, Drs. Nanang Hadiyanto bersamaan dengan kunjungan kerja Kepala BNNP DIY di BNN Kota Yogyakarta pada Rabu (02/09) sore. Kegiatan sosialisasi diikuti oleh Kepala BNN Kota Yogyakarta beserta para pejabat dan beberapa pegawai BNN Kota Yogyakarta.Dalam arahannya Kepala BNNP DIY menyampaikan arti pentingnya pembangunan Zona Integritas dalam rangka mencegah terjadinya korupsi. Menurut Kepala BNNP DIY, Pembangunan Zona Integritas di BNN sendiri sudah dimulai sejak tahun 2018 dan sudah ada edaran dari BNN Pusat kepada BNNP dan BNNK untuk melakukan pembangunan Zona Integritas di BNNP/BNNK. Untuk itu Kepala BNNP DIY meminta supaya BNN Kota Yogyakarta menyiapkan untuk pembangunan Zona Integritas di Lingkungan BNN Kota Yogyakarta.Setelah arahan dari Kepala BNNP DIY, dilanjutkan dengan sosialisasi Zona Integritas dari Ketua Pokja Penguatan Pengawasan BNNP DIY, Triaji Wicaksono, S.H. Triaji menyampaikan sosialisasi tentang Zona Integritas khususnya komponen Penguatan Pengawasan. Beliau menyampaikan mengenai Pengendalian Gratifikasi, Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Pengaduan Masyarakat, Whistleblowing System, dan Penanganan Benturan Kepentingan.Kepala BNN Kota Yogyakarta menyambut baik sosialisasi ini, beliau berharap kegiatan ini bisa menambah wawasan tentang Zona Integritas kepada peserta sosialisasi dan bisa menjadi bekal untuk melaksanakan pembangunan Zona Integritas di BNN Kota Yogyakarta.


Rabu, 2 September 2020

Kunjungan Kepala BNNP DIY ke BNN Kota Yogyakarta

Yogyakarta (02/09). Dalam rangka meningkatkan sinergitas dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba (P4GN) di DIY Kepala BNNP DIY, Drs Nanang Hadiyanto melakukan kunjungan kerja ke Kantor BNN Kota Yogyakarta pada Rabu (02/09) sore. Dalam kunjungannya Kepala BNNP DIY didampingi oleh Ibu Pingkan Nanang selaku ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) BNNP DIY beserta beberapa staf BNNP DIY. Di BNN Kota Yogyakarta, rombongan Kepala BNNP DIY disambut oleh Kepala BNN Kota Yogyakarta, AKBP Khamdani, S.Sos beserta para pejabat dan staf BNN Kota Yogyakarta. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Kepala BNNP DIY ke BNN Kota Yogyakarta sejak beliau dilantik pada Agustus kemarin.Kepala BNN Kota Yogyakarta juga mengajak Kepala BNNP DIY untuk berkeliling meninjau lingkungan kantor BNN Kota Yogyakarta. Kepala BNN Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa BNN Kota Yogyakarta masih belum mempunyai kantor tetap, kantor yang digunakan masih berstatus sewa.Dalam kunjungan tersebut Kepala BNN Kota Yogyakarta melaporkan mengenai keberadaan BNN Kota Yogyakarta, personil, sarana dan prasarana yang dimiliki BNN Kota Yogyakarta, serta capaian kegiatan di tahun tahun 2019 dan 2020. Kepala BNN Kota juga memperkenalkan para pejabat yang ada di BNN Kota Yogyakarta. Kepala BNN Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan di tahun 2020 ini khususnya bidang Pencegahan dan Pemberadayaan Masyarakat (P2M) ada kendala dikarenakan adanya pandemi Covid-19 sehingga sempat terhenti selama beberapa bulan, namun dalam 2 bulan terakhir sudah mulai berjalan kembali.Dalam arahannya Kepala BNNP DIY menyampaikan kepada Kepala BNN Kota Yogyakarta supaya membuat laporan satker yang berisi gambaran umum mengenai keberadaan kota Yogyakarta, keberadaan Kota Yogyakarta, situasi kerawanan narkoba di Kota Yogyakarta, kekuatan dan upaya BNN Kota Yogyakarta dalam pelaksanaan P4GN. Kepala BNNP juga menyampaikan supaya menggalakkan kegiatan penyuluhan dengan memberdayakan seluruh personil BNNK dan berinovasi dengan menggunakan media-media yang banyak digemari masyarakat sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa dijangkau.


Selasa, 11 Desember 2018

BNNP DIY Turut memerihakan Perayaan Sekaten

Yogyakarta – BNNP Daerah Isimewa Yogyakarta (DIY) berhasil meraih juara 1  kategori stand terbaik dalam pameran perayaan pasar malam Sekaten, Senin (19/11). Penghargaan ini merupakan apresiasi kali pertama yang diberikan Pemerintah Provinsi DIY kepada lembaga pemerintah yang berpartisipasi dalam pameran perayaan  Sekaten.

BNNP DIY pada setiap tahunnya berpartisipasi dalam perayaan sakral bagi masyarakat Yogyakarta ini. Selain menjadi ajang eksistensi BNNP DIY sebagai lembaga pemerintahan, pameran perayaan malam Sekaten yang berlangsung selama 02-19 November tahun ini juga dimanfaatkan sebagai momentum kampanye dalam rangka mengedukasi masyarakat.

Pengenalan jenis-jenis narkoba, bahaya penyalahgunaan narkoba,  hingga langkah yang dapat dilakukan jika mendapati orang terdekat sebagai pelaku penyalahgunaan narkoba menjadi materi yang laris ditanyakan pengunjung.

Untuk menunjang kampanye yang dilakukan, BNNP DIY tidak hanya mengandalkan model pembelajaran bertutur langsung (face to face) kepada pengunjung, tetapi juga menyajikan beragam media pembelajaran yang menarik. Diantaranya informasi seputar narkoba yang dikemas dalam  bentuk pamflet, video, replika jenis-jenis narkoba, dan permainan dart board (melempar anak panah ke papan tarhet bundar). Tak ketinggalan, BNNP DIY juga menyediakan photo booth guna menarik perhatian generasi milenial yang gemar ber-selfie ria.

Kerja keras dan pelayanan yang diberikan BNNP DIY berhasil mendapatkan perhatian dan apresiasi dari sejumlah pihak. Setiap harinya, ratusan pengunjung dari berkalangan memadati stand. Apresiasi tersebut yang pada akhirnya berhasil mengantarkan BNNP DIY memperoleh penghargaan sebagai stand terbaik.


Jumat, 22 Maret 2019

Pemberdayaan Alternatif Bimtek Lifeskill (Pelatihan Barista) Kawasan Rawan Perkotaan

Yogyakarta (22/03) Dalam rangka menjalankan rangkaian kegiatan Pemberdayaan Alternatif tahun 2019 yang dilaksanakan di Desa Banguntapan, BNNP DIY menyelenggarakan kegiatan Bimtek Life Skill Kawasan Rawan Perkotaan.

Acara berlangsung tiga hari dimulai tanggal 19 sampai 21 Maret 2019 bertempat di Hotel Bifa Yogyakarta. Bekerja sama dengan Jogja Tourism Training Center (JTTC) Yogyakarta, kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari 9 dukuh di Desa Banguntapan. Pelatihan yang diberikan adalah pelatihan peracikan kopi (Barista).

Kegiatan dibuka oleh Kabid P2M BNNP DIY, Bambang Wiryanto, S.Si dan dihadiri oleh sejumlah undangan diantaranya Kepala BNNK Bantul, Kasi P2M BNNK Bantul, kepala dukuh, serta perangkat desa Banguntapan.

Sebelum mendapatkan materi pelatihan, peserta terlebih dahulu mendapat materi tentang "Penjelasan Kegiatan Pemberdayaan Alternatif BNNP DIY Tahun 2019" yang disampaikan oleh Kepala Bidang P2M BNNP DIY. Dalam penjelasannya, Kabid P2M menjelaskan urutan kegiatan hingga akhirnya ditetapkan Desa Banguntapan sebagai penerima manfaat dan Bimtek Peracikan Kopi yang dipilih untuk diberikan.

15 peserta yang dipilih berdasarkan kriteria mantan penyalahguna / mantan pengedar / warga rentan yang berdomisili di Desa Banguntapan. Bentuk pelatihan adalah 30% teori dan 70% praktek, diikuti dengan antusias oleh semua peserta.

Selain dari JTTC, peserta juga mendapatkan bekal tentang bagaimana menjadi seorang wirausaha dan tips mendapatkan bantuan modal usaha dari pemerintah. Materi ini disampaikan oleh Wahyu Tri Atmojo dari CIS PLUT.

Kegiatan ini berakhir tanggal 21 Maret 2019 dan ditutup oleh Kabag Umum BNNP DIY. Secara simbolis BNNP DIY melalui Kabag Umum memberikan bantuan bahan dan alat kepada semua peserta sebagai modal awal untuk merintis usaha.

Diharapkan dengan kegiatan ini peserta yang memiliki latar belakang rawan lahgun dan edar narkoba, mampu merintis menjadi wirausaha sehingga mandiri secara ekonomi dan meningkat taraf hidup nya.



Jumat, 27 Desember 2019

BNNP DIY Rilis Capaian Kegiatan Selama Tahun 2019

Yogyakarta (27/12). Sebagai wujud keterbukaan informasi publik, BNNP DIY menggelar pres release capaian kegiatan selama tahun 2019. Kegiatan yang digelar di ruang rapat BNNP DIY pada Jumat (27/12) tersebut dihadiri oleh perwakilan dari beberapa instansi penegak hukum yang ada di wilayah DIY antara lain Polda DIY, Kejaksaan Tinggi DIY, Kejaksaan Negeri Kota Yogyakarta, Kejaksaan Negeri Sleman, Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Pengadilan Negeri Sleman, BPOM, Labkesda DIY dan juga beberapa wartawan media cetak dan elektronik di DIY.Kepala BNNP DIY Brigjen Pol Drs. Triwarno Atmojo. dalam materinya menyampaikan Hasil Pencapaian Kinerja BNNP DIY dan jajarannya selama Tahun 2019.Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) Bidang P2M bertugas untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam penanganan P4GN. Capaian Kinerja pada tahun 2019 telah dilaksanakan berbagai kegiatan sebagai berikut :

  • Relawan Anti Narkoba sebanyak 460 orang;
  • Desa Bersih Narkoba (Desa Bersinar) yaitu Desa Condongcatur (diresmikan oleh Kepala BNN RI, 27 Desember 2018) dan Desa Banguntapan (diresmikan oleh Kepala BNNP DIY, 6 November 2019);
  • Progam Pembangunan Berwawasan Anti Narkoba (Bang Wawan) sebagai upaya melibatkan semua pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, Pendidikan, dan masyarakat. Sebanyak 30 Institusi Pemerintah, 30 Institusi Swasta, 60 Institusi Pendidikan, 30 Kelompok Masyarakat.
  • Sosialisasi bahaya narkoba melalui media elektronik dan non eleketronik dengan perkiraan jumlah orang yang terpapar informasi sebanyak 3.594.326 orang;
  • Penyuluhan kepada pelajar,mahasiswa, pekerja dan masyarakat sebanyak 301.643 orang;
  • Tes Uji Narkoba sebanyak 29 kali dengan anggaran mandiri/swadaya masyarakat sebanyak 3.030 orang
  • BNNP DIY telah berhasil mendorong kerjasama bersama 270 institusi baik pemerintah, swasta, lingkungan pendidikan, dan masyarakat;
  • BNNP DIY telah berhasil membentuk STAND (Satuan Tugas Anti Narkoba DIY) yang mewadahi Satgas Anti Narkoba Pelajar SMA Se-DIY
  • BNNP DIY berhasil mendorong terbentuknya HISMAPARTA (Himpunan Satgas Mahasiswa P4GN Yogyakarta)
  • BNNP DIY bekerjasama dengan BUMN dalam program BUMN Hadir Untuk Negeri
  • Pelatihan Life Skill Barista kepada 30 orang dari kawasan Rawan Narkoba (Desa Banguntapan dan kampung Prawirotaman Kec. Mergangsan).
Bidang Rehabilitasi BNN Rehabilitasi berkelanjutan terdiri dari rehabilitasi (+ 3 bulan) dan pascarehabilitasi (+ 6 bulan). Proses rehabilitasi ini bertujuan agar para pecandu bisa pulih, produktif dan berfungsi sosial. Pada tahun 2019 capaian bidang rehabilitasi sebagai berikut :
  • Rehabilitasi rawat jalan Klinik Seger Waras berjumlah 82 orang;
  • Rehabilitasi rawat inap di Lembaga Rehabilitasi Komponen masyarakat berjumlah 74 orang;
  • Rehabilitasi rawat jalan di Lembaga Rehabilitasi Komponen masyarakat berjumlah 36 orang;
  • Asesmen Terpadu oleh Tim Asesmen Terapadu (TAT) sebanyak 78 orang (70 orang direkomendasikan rehabilitasi dan 7 orang dikembalikan ke penyedik;
  • Asesmen medis atas permintaan penyidik sebanyak 72 orang
  • Layanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) berjumlah 498 orang;
  • Peningkatan kemampuan Lembaga Rehabuilitasi berjumlah 16 lembaga;
  • Skrining Intervensi Lapangan (SIL) berjumlah 253 orang dengan hasil 43 orang beresiko selanjutnya dirujuk ke Lembaga Rehabuilitasi 28 orang.
  • Klien pascarehabilitasi sebanyak 62 orang, memperoleh ketrampilan, pengembangan diri dan family therapy.
Bidang Pemberantasan Keberhasilan BNNP DIY dalam aspek supply reduction dapat dilihat dari pencapaian memetakan 3 (tiga) jaringan sindikat peredaran narkotika yang beroperasi di Wilayah DIY dan sekitarnya. Dalam kurun waktu Januari hingga Desember 2019 jajaran BNNP DIY berhasil mengungkap 19 kasus narkotika dengan tersangka sebanyak 25 orang dan barang bukti narkotika berupa shabu sebanyak 6.283,42 gram serta ganja 774,84 gram. Berkas perkara tindak pidana narkotika yang ditangani sebanyak 26 berkas perkara, yang mana sebanyak 20 berkas perkara berhasil diselesaikan (P21) di tahun 2019 ini, sedangkan 6 Berkas perkara masih dalam proses penyelesaian.Pengungkapan kasus narkotika yang menonjol selama tahun 2019 adalah pengungkapan kasus narkotika jenis shabu sebanyak 5.505 gram di Bandara Adisucipto Yogyakarta yang merupakan hasil kerja sama antara BNNP DIY dengan AVSEC Bandara Adisucipto Yogyakarta pada tanggal 29 September 2019, yang mana dalam pengungkapan kasus tersebut BNNP DIY berhasil mengamankan 4 (empat) orang tersangka yang bertindak sebagai kurir pembawa narkotika.Pemusnahan barang bukti narkotika sebanyak 2 kali yaitu pada tanggal 9 Oktober 2019 berupa pemusnahan barang bukti narkotika jenis shabu dengan berat 5.465 gram dan pada tanggal 27 Desember 2019 berupa pemusnahan barang bukti narkotika jenis shabu dengan berat 426,80 gram.Dalam meningkatkan upaya pemberantasan peredaran narkotika BNNP DIY menjalin kerja sama dengan berbagai instansi di wilayah DIY salah satunya BNNP DIY, Polda DIY dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Yogyakarta memperbarui Kesepakatan Bersama dalam penanganan tindak pidana narkotika, psikotropika dan obat-obatan berbahaya serta prekursor di wilayah DIY. Kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi dan bersinergi program P4GN, baik instansi pemerintah, swasta dan semua elemen masyarakat di Provinsi DIY, BNNP DIY memberikan apresiasi setingi-tingginya. Mari satukan tekad, bersatu dan bersinergi menyatakan “Perang Terhadap Narkotika” menggalang seluruh kekuatan bangsa agar Negara Kesatuan Republik Indonesia maju dan masa depan generasi milineal sebagai penerus bangsa dapat terhindar dari bahaya narkotika.Kegiatan pres release dilanjutkan dengan pemusnahan barang bukti Narkotika Jenis Shabu yang terdiri dari 13 paket dengan berat bruto 483.17 gram hasil ungkap BNNP DIY tanggal 14 Desember 2019. Setelah dilakukan penimbangan, untuk kepentingan pembuktian perkara sebanyak 56,37 gram untuk pemeriksaan laboratorium, penyidikan dan pembuktian perkara sedangkan 426,80 gram dimusnahkan.#stopnarkoba#jogjakutanpanarkoba


Kamis, 5 Maret 2020

BNNP DIY Musnahkan Shabu Seberat 2.155 Gram dan CL (Clandestine Lab)

Yogyakarta (05/03). BNNP DIY memusnahkan narkotika jenis Shabu seberat 2.155 gram hasil sitaan dari tersangka MI dan N bertempat di halaman Kantor BNNP DIY.Sebelumnya, Tersangka MI kedapatan membawa 1.095 gram dalam bentuk makanan saat berada di Apartement Malioboro pada hari Kamis, 13 Februari 2020, sedangkan N kedapatan membawa 1.060 gram yang dimasukkan ke dalam tas saat berada di depan Bandara Adi Sucipto pada hari Jumat, 21 Februari 2020. Selain itu, Tim Gabungan dari Bidang Pemberantasan Wilayah DIY juga berhasil menangkap seseorang yang berinisial AC, barang bukti shabu dan peralatan serta bahan kimia pembuatan shabu (Clandestine Lab) berada di Kec. Sayegan Kab. Sleman D.I.Y pada hari Kamis, 20 Februari 2020.Acara pemusnahan dibuka dengan Sambutan Kepala BNNP DIY, dilanjutkan Pembacaan Surat Ketetapan Pemusnahan Barang Bukti Narkotika jenis Shabu. Setelah itu dilakukan Penimbangan dan Pengecekan Barang bukti dengan disaksikan oleh tersangka dan perwakilan dari beberapa instansi terkait.Pemusnahan barang bukti di pimpin oleh Kepala BNNP DIY, I Wayan Sugiri, SH., S.IK., M.Si. didampingi oleh Kepala Kejaksaan Tinggi DIY, Kepala Bea dan Cukai DIY, dan DIRRESNARKOBA POLDA DIY. Acara dihadiri dan disaksikan oleh perwakilan dari PT. Angkasa Pura I, Kejari Kota Yogyakarta, Kejari Sleman, BPOM DIY, Labkesda DIY, penasihat hukum serta para wartawan baik media cetak maupun elektronik.Keberadaan Clandestine Lab dan pelaku sebagai produsen serta kurir merupakan ancaman besar bagi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota wisata. Kejahatan Narkotika sebagai Transnational Crime, Extraordinary Crime dan Organized Crime memerlukan penanganan yang serius.Diharapkan para aparat penegak hukum dan stake holder terus meningkatkan sinergitas agar DIY bebas dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. 


Terkini


Jumat, 14 Februari 2020

Pengungkapan Peredaran Gelap Narkoba Jenis Shabu Berat 1.095 gram

Yogyakarta (14/02). BNNP DIY melaksanakan press conference pengungkapan  kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika jenis shabu seberat 1.095 gram, Jum’at, 14 Februari 2020, bertempat di Lobby BNNP DIY. Shabu tersebut merupakan hasil sitaan dari tersangka MI bin A.Press Conference dipimpin langsung oleh Kepala BNNP DIY, Brigjen Pol. I Wayan Sugiri, S.H., S.IK., M.Si didampingi oleh Plt. Kabid Pemberantasan BNNP DIY, Kabag Umum BNNP DIY, Kepala BNNK Sleman dan Kepala BNN Kota Yogyakarta serta dihadiri puluhan wartawan baik dari media cetak maupun elektronik. Dilanjutkan dengan pembacaan surat Kasus Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika Jenis Shabu.Kepala BNNP DIY menyampaikan mengenai kronologis penangkapan, identitas tersangka, modus operandi serta barang bukti yang didapatkan. Dalam pernyataannya, Kepala BNNP DIY mengatakan “kronologi berawal dari laporan informasi masyarakat bahwa akan terjadi transaksi peredaran gelap Narkotika di wilayah Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta.  Tim Pemberantasan BNNP DIY menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan selama satu minggu dan melakukan surveillance terhadap tersangka di sekitar Kecamatan Depok Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta.”Selanjutnya Petugas mengamankan Tersangka MI pada hari Kamis, 13 Februari 2020 sekitas pukul 20.00 WIB di Basement Apartement Malioboro City, Kp. Tambakbayan Kel. Caturtunggal Kec. Depok D.I. Yogyakarta. Pada saat melakukan penggeledahan petugas mendapati tersangka membawa 1 (satu) paket Narkotika jenis Shabu berat Brotto 1.095 gram disembunyikan pada dinding kardus. Selain kedapatan membawa shabu, adapun barang bukti yang dibawa tersangka diantaranya 2 (unit) handphone berikut simcard, 1 (satu) kartu ATM dan uang tunai senilai Rp 640.000,-. Kepala BNNP DIY mengharapkan agar masyarakat tidak melihat dari besar nilai ekonomis dari Narkotika yg diungkap yaitu sabu 1.095 gram, namun melihat dari jumlah generasi muda yang dapat diselamatkan sekitar 6.000 orang.BNNP DIY berkomitmen untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap secara gencar dan terus menerus sehingga Daerah Istimewa Yogyakarta bebas dari peredaran gelap Narkotika. Keberhasilan ungkap kasus ini merupakan hasil sinergitas BNNP DIY dengan seluruh komponen masyarakat dan diharapkan dapat terus berlanjut.#Stop Narkoba#jogjaistimewatanpanarkoba


Jumat, 14 Februari 2020

Pengungkapan Peredaran Gelap Narkoba Jenis Shabu Berat 1.095 gram

Yogyakarta (14/02). BNNP DIY melaksanakan press conference pengungkapan  kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika jenis shabu seberat 1.095 gram, Jum’at, 14 Februari 2020, bertempat di Lobby BNNP DIY. Shabu tersebut merupakan hasil sitaan dari tersangka MI bin A.Press Conference dipimpin langsung oleh Kepala BNNP DIY, Brigjen Pol. I Wayan Sugiri, S.H., S.IK., M.Si didampingi oleh Plt. Kabid Pemberantasan BNNP DIY, Kabag Umum BNNP DIY, Kepala BNNK Sleman dan Kepala BNN Kota Yogyakarta serta dihadiri puluhan wartawan baik dari media cetak maupun elektronik. Dilanjutkan dengan pembacaan surat Kasus Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika Jenis Shabu.Kepala BNNP DIY menyampaikan mengenai kronologis penangkapan, identitas tersangka, modus operandi serta barang bukti yang didapatkan. Dalam pernyataannya, Kepala BNNP DIY mengatakan “kronologi berawal dari laporan informasi masyarakat bahwa akan terjadi transaksi peredaran gelap Narkotika di wilayah Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta.  Tim Pemberantasan BNNP DIY menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan selama satu minggu dan melakukan surveillance terhadap tersangka di sekitar Kecamatan Depok Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta.”Selanjutnya Petugas mengamankan Tersangka MI pada hari Kamis, 13 Februari 2020 sekitas pukul 20.00 WIB di Basement Apartement Malioboro City, Kp. Tambakbayan Kel. Caturtunggal Kec. Depok D.I. Yogyakarta. Pada saat melakukan penggeledahan petugas mendapati tersangka membawa 1 (satu) paket Narkotika jenis Shabu berat Brotto 1.095 gram disembunyikan pada dinding kardus. Selain kedapatan membawa shabu, adapun barang bukti yang dibawa tersangka diantaranya 2 (unit) handphone berikut simcard, 1 (satu) kartu ATM dan uang tunai senilai Rp 640.000,-. Kepala BNNP DIY mengharapkan agar masyarakat tidak melihat dari besar nilai ekonomis dari Narkotika yg diungkap yaitu sabu 1.095 gram, namun melihat dari jumlah generasi muda yang dapat diselamatkan sekitar 6.000 orang.BNNP DIY berkomitmen untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap secara gencar dan terus menerus sehingga Daerah Istimewa Yogyakarta bebas dari peredaran gelap Narkotika. Keberhasilan ungkap kasus ini merupakan hasil sinergitas BNNP DIY dengan seluruh komponen masyarakat dan diharapkan dapat terus berlanjut.#Stop Narkoba#jogjaistimewatanpanarkoba


Selasa, 18 Agustus 2020

Peringatan HUT ke-75 RI di Lingkungan BNNP DIY

Bulan Agustus menjadi salah satu bulan yang cukup semarak dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. BNNP DIY pun mencoba merayakan arti kemerdekaan di tahun ini dengan berbagai macam kegiatan. Tujuannya adalah memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai simbol, namun juga sebagai kesempatan untuk berkarya tanpa batas. Menyatukan keberagaman melalui kolaborasi dan kerja nyata. BNNP DIY melakukan rangkaian kegiatan sebagai berikut:

  1. Jalan Santai dan Pemasangan Umbul-umbul.
Pada tanggal 14 Agustus 2020, pegawai BNNP DIY  melaksanakan jalan santai mengitari rute sekitar Nol Kilometer dalam rangka kampanye damai Hidup 100% tanpa narkoba. Sementara di sekitar kantor, dipasang umbul-umbul dan bendera merah putih untuk menyemarakkan suasana kemerdekaan.
  1. Anjangsana
Untuk mengenang momen sejarah berdirinya BNNP DIY, beberapa personel yang masih aktif melakukan anjangsana ke rumah pegawai yang telah purna tugas pada hari Jumat, 14 Agustus 2020. Ibu Indartiningsih, B.A adalah salah satu pegawai pertama saat Badan Narkotika Provinsi (BNP) pertama kali beroperasi. Sembari berbagi kisah, pegawai yang aktif juga mendapatkan motivasi untuk tetap semangat dalam berkontribusi hingga purna tugas.
  1. Pengukuhan Satgas Mahasiswa
Sebagai upaya berperan aktif dalam gerakan P4GN, organisasi HISMAPARTA adalah wadah satgas anti narkoba mahasiswa di DIY. Organisasi ini diikuti oleh beberapa satgas kampus di Yogyakarta. Pada Jumat 14 Agustus 2020 telah dilaksanakan Pengukuhan Pengurus Hismaparta periode 2020/2021. Bertempat di ruang rapat, kegiatan dimulai pukul 7.30 tepat. Kegiatan dipimipin oleh Kabag Umum BNNP DIY sekaligus mengukuhkan mewakili Kepala BNNP DIY. Acara dilaksanakan secara virtual, diikuti oleh seluruh pengurus dari tempat masing-masing. Sementara yang mewakili pengukuhan di BNNP DIY hanya 4 mahasiswa.
  1. Talkshow Angkringan TVRI Jogja
Dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan RI yang Ke 75 di masa pandemi wabah Covid 19  melanda, upaya edukasi bahaya narkoba harus tetap dilaksanakan, dengan menggunakan modifikasi cara yang aman. Hal ini dilaksanakan oleh BNNP DIY  dengan kegiatan edukasi  Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba melalui media elektronik dalam bentuk talkshow di Program Komedi Situasi “Angkringan Jogja”  dengan tema “Bersatu, Bergerak dan Berjuang Melawan Narkoba Untuk Indonesia Maju”. Bekerjasama dengan TVRI jogja dalam Program Talkshow “Angkringan” yang dikemas dengan guyonan khas Jogja sehingga pesan yang disampaikan mudah diterima oleh masyarakat Pemirsa TVRI.
  1. Upacara Detik-detik Proklamasi secara Virtual
Pada puncak perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-75, para pejabat struktural di lingkungan BNNP DIY mengikuti upacara Detik-detik Proklamasi secara virtual dari ruang rapat kantor  dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara pegawai BNNP DIY lainnya mengikuti jalannya upacara dari rumah masing-masing.
  1. Lomba 17an
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Selasa, 18 Agustus 2020, ini bertujuan untuk memeriahkan suasana 17an dengan perlombaan individu, yaitu lomba membawa kelereng dengan berjalan mundur dan lomba menggiring balon di track lurus.Selain itu juga ada lomba yang membutuhkan konsentrasi antara lain lomba memasukkan sedotan kecil dalam botol serta memecahkan balon dengan mata tertutup. Tak hanya lomba individu, untuk mengasah kemampuan wawasan kebangsaan pegawai, terdapat lomba yang membutuhkan kerjasama dalam tim, dengan kompetisi menebak lagu nasional Indonesia dengan cara pantomim. Perlombaan ini selain mengajak pegawai berkompetisi, namun juga bertujuan untuk merajut kebersamaan antar pegawai. Mengisi kemerdekaan, hidup 100% tanpa narkoba,
  1. Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan
Sebagai bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, para pahlawan merupakan pihak yang sangat berjasa. Untuk itu, pejabat di BNNP melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara pada tanggal 19 Agustus 2020 sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Adhika Pertiwi, S.Sos.Perencanaan BNNP DIY 


Senin, 17 Agustus 2020

Menjadi Insan Yang Merdeka Dengan #HIDUP100PERSEN

(sebuah renungan memperingati  75 tahun Indonesia tangguh) Bulan Agustus adalah bulan yang kental dengan nuansa nasionalisme. Bulan dengan warna merah putih bertebaran dimana-mana. Bulan dimana seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang jatuh setiap tanggal 17. Tahun ini, genap 75 tahun bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan yang diraih dengan mengorbankan nyawa ribuan pejuang, mengorbankan harta benda bahkan jiwa raga. Sungguh bukan harga yang murah. Kemerdekaan yang tidak dapat kita tukar dengan apapun. Genap 75 tahun yang lalu bangsa kita telah berhasil memerdekakan diri dari penjajahan yang telah ratusan tahun mengikat kehidupan di republik ini. Dan saat ini, setelah 75 tahun merasakan udara kemerdekaan, mari sejenak merenung. Benarkah sesungguhnya kita telah merdeka dalam arti yang lebih luas? Benarkah setiap insan di republik ini telah memiliki kemerdekaan dalam kehidupannya? Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penindasan, merdeka dalam menentukan masa depan, merdeka dari segala bentuk keterbelakangan baik secara ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan, merdeka dari segala bentuk penjajahan tanpa wajah baik melalui masuknya budaya asing yang tidak selalu selaras dengan budaya bangsa, juga penjajah tanpa wajah yang bernama narkoba. Angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 (dari 13 ibukota provinsi di Indonesia ) mencapai angka 2,29 juta orang (Puslitdatin BNN RI, 2019). Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar penyalahgunaan narkoba adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial. Atas hal ini, seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Generasi yang seharusnya memiliki kualitas optimal, justru menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Kelompok umur yang seharusnya sedang dalam puncak produktivitas dan menjadi SDM utama bangsa dalam mengisi pembangunan. Generasi yang seharusnya menjadi sumber daya utama bersaing dengan bangsa lain. Tetapi justru menjadi bagian permasalahan utama bangsa. Sungguh, apabila keprihatinan ini tidak dirasakan oleh kita semua, maka bangsa kita akan mengalami lost generation atau hilangnya sebuah generasi karena ancaman narkoba sungguh nyata. Menurut KBBI, merdeka memiliki makna bebas dari penjajahan/penghambaan, tidak terikat/tidak bergantung. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kehendak bebas (free of will). Bebas menentukan apa yang ingin dituju. Kita harus memiliki kemerdekaan dalam menentukan masa depan seperti apa yang ingin dijalani. Kemerdekaan dalam memiliki prinsip hidup, merdeka dari kesulitan/kesengsaraan, dari penghambaan terhadap segala hal yang membuat hidup kita terikat. Sudah seharusnya sebagai manusia kita memiliki kemerdekaan dalam menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Maka, mari kita renungkan bersama. Telah merdekakah sejatinya bangsa kita. Apakah makna merdeka jika melihat angka peyalahgunaan narkoba yang masih sangat memprihatinkan. Masih beranikah kita bermimpi bahwa bangsa ini akan terus  menjadi bangsa yang semakin kuat dan maju?Tentu, kita tetap harus berani memiliki mimpi dan mewujudkannya, bagaimanapun situasinya. 75 tahun yang lalu bangsa Indonesia telah menunjukkan pada dunia bagaimana memulai sebuah perjalanan menjadi bangsa yang merdeka. Dan selama 75 tahun berikutnya, dunia telah menyaksikan bahwa kita adalah bangsa yang tahu bagaimana melanjutkan perjalanan kemerdekaan. Maka mari kita teruskan. Mulai dari diri kita sendiri. mari menjadi manusia yang merdeka dalam arti sesungguhnya. Mengisi kehidupan dengan kesadaran penuh. Untuk anda yang saat ini masih terikat pada jeratan narkoba, sampai kapan anda akan menjual kemerdekaan yang sejatinya telah dimiliki sejak lahir. Mari rebut kembali kemerdekaan atas hidupmu. Lepas dari keterikatan dan penghambaan pada narkoba. Dan mulai kembalikan kemerdekaan hidupmu dengan penuh kesadaran, sehingga sehat dan produktif akan menjadi milik anda. Mari #hidup100persen.Seratus persen sadar, seratus persen sehat, seratus persen produktif, dan akhirnya seratus persen bahagia,Selamat merayakan kemerdekaan. Santy Dwi K, SKMPenyuluh Narkoba BNNP DIY 


Jumat, 12 Juni 2020

Peer Counseling Dalam Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba secara massive menyerang seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali pemuda dan remaja sebagai harapan masa depan bangsa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh BNN pada tahun 2018 angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar/mahasiswa sebesar 3,2% atau setara dengan dua juta jiwa. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat guna mewujudkan sumber daya manusia yang unggul menghadapi bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2030 sampai 2040. Peran kita bersama untuk membantu remaja saat ini keluar dari permasalahan yang mempengaruhi kemampuan jasmani dan rohani seperti keterpaparan dengan narkoba, pornografi, korupsi dan masalah lainnya.Menurut Santrock (2004) masa remaja adalah masa dimana terjadi transisi baik biologis, kognitif maupun sosial. Dalam hal hubungan dengan teman sebaya, Santrock (2003) mengemukaan bahwa remaja mulai belajar mengenai pola hubungan timbal balik melalui interaksi dengan temannya. Mereka mulai mengamati dan meneliti aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh teman sebaya dengan tujuan untuk mempermudah penyatuan individual dengan teman sebaya tersebut. Dari hal ini diketahui teman sebaya memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial individu remaja. Berangkat dari fakta ini, bukan tidak mungkin pemerintah akan megambil sikap lebih gencar terhadap upaya pencegahan narkoba dan rehabilitasi melalui peer support/ peer counseling. Pengalaman keberhasilan seorang remaja dalam bersikap, bertindak menolak narkoba dapat mempengaruhi remaja lain. Selain itu, pengalaman keberhasilan remaja pulih dari ketergantungan/ adiksi terhadap narkoba juga mampu mempengaruhi remaja lain untuk membantu pemulihan ketergantungannya.Peer counseling (konseling teman sebaya) muncul pertama kali tahun 1939 dengan konsep peer helping. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu penderita alkoholic (Carter,2005). Konsep tersebut menekankan bahwa pengalaman keberhasilan individu dalam mengatasi kecanduan alkohol dapat mempengaruhi individu lain untuk mengatasi kecanduan juga. Menurut Sujarwo, 2005 konseling teman sebaya merupakan metode tingkah laku saling memperhatikan dan saling membantu antara teman sebaya, dimana kegiatan tersebut dilakukan oleh individu non profesional dalam kegiatan sehari-hari. Keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan mendengarkan secara aktif serta kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Dalam hal ini kedudukan antara individu tersebut adalah sama atau setara.Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkoba apakah konsep peer counseling bisa diterapkan? Dewasa ini banyak sekali kita mendengar upaya yang dilakukan untuk memulihkan penyalahguna narkoba dengan cara konseling sebaya. Konseling sebaya diharapkan mampu mendukung upaya untuk memulihkan dan mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.Banyak penelitian mengenai konseling sebaya maupun dukungan sebaya dalam treatment adiksi yang menunjukkan adanya harapan keberhasilan. Namun data yang ada saat ini masih belum cukup untuk diambil kesimpulan secara global. Tapi tidak menutup kemungkinan jika hal ini dilakukan dan disertai dengan dukungan ilmiah dan jurnal-jurnal penelitian yang beragam, upaya kita bersama dalam menekan penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan remaja dapat dilakukan. Hal ini diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Tracy dan Wallace (2016).Namun perlu diingat juga, keterampilan peer support/ peer counseling harus memenuhi minimal dua aspek, yaitu keterampilan menjadi pendengar yang baik dan keterampilan dalam pemecahan permasalahan atau problem solving. Karena setiap individu tidak serta merta dapat menjadi pendengar yang baik dan problem solving baik.Beberapa tips bagaimana menjadi pendengar yang baik telah banyak dibahas di berbagai pembahasan. Secara umum pendengar yang baik harus mempu menahan diri memberi respon dan menunggu lawan bicara menyelesaikan bicaranya. Untuk menguatkan kembali pesan yang diterima, dapat melakukan pengulangan kembali apa yang telah disampaikan. Dapat juga menyampaikan umpan balik berupa pertanyaan yang diberikan kepada lawan bicara untuk menegaskan pesan. Hal ini juga untuk menghindari asumsi. Selama proses mendengar aktif harus selalu menunjukkan sikap tubuh yang menunjukkan ketertarikan pada apa yang disampaikan oleh lawan bicara. Hal ini akan memberi kesan bahwa lawan bicara adalah penting. Jagalah kontak mata dan posisi tubuh yang positif (dengan mencondongkan badan sedikit kearah lawan bicara serta duduk dengan level yang sama) selama berinteraksi. Apabila sedang dalam situasi kurang maksimal dalam mendengarkan, jangan ragu untuk menyampaikan. Misal sedang terburu-buru, atau harus melakukan satu pekerjaan terlebih dahulu. Sampaikan permintaan jeda/waktu sebentar untuk menyelesaikan pekerjaan. Keterampilan problem solving tidak muncul serta merta melainkan harus menjadi pembiasaan sejak dini. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi masalah serta menemukan cara penyelesaan terbaik yang efektif. Dalam keterampilan problem solving diperlukan beberapa keterampilan terkait diantaranya kemampuan mendengar aktif, menganalisa, meneliti, menciptakan kreatifitas, serta mengambil keputusan yang tepat.Keterampilan mendengar aktif dan problem solving sangat mendukung dalam memberikan peer support/ peer counseling. Dan proses ini sangat relevan dalam konteks penanganan penyalahgunaan narkoba, khususnya di kalangan remaja. Apapun itu, upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan remaja perlu kita dukung untuk mewujudkan kualitas SDM unggul sebagai generasi penerus bangsa yang bebas dari penyalahgunaan narkoba. (HK) Hindun Kurnia N, S.KMPenyuluh Narkoba BNNP DIY  


Jumat, 15 Mei 2020

Ramadhan untuk Perubahan

Ramadhan kali ini memang berbeda, bahkan teramat berbeda, so special. Semua dianjurkan untuk #dirumahsaja, bekerja di rumah, bermain di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Dalam momen puasa Ramadhan yang banyak #dirumahsaja ini kita bisa mengambil kesempatan untuk pelan-pelan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang sehat.Semangat Ramadhan adalah semangat perubahan menuju kebaikan dengan mengubah kebiasaan. Nah hal apa saja yang perlu kita perhatikan ketika kita sudah berniat untuk mengubah kebiasaan kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang sehat? Berikut ini diantaranya:

  1. Pelan-Pelan dan Bertahap
Beranjak dari zona nyaman yang telah bertahun-tahun menjadi kebiasaan memang tidak mudah. Apakah bisa? Bisa! Kebiasaan melihat smartphone ketika bangun tidur, kebiasaan bermalas-malasan, kebiasaan berkacak pinggang saat bicara, kebiasaan cemberut, kebiasaan berbicara kasar, kebiasaan membandingkan dengan kehidupan orang lain, kebiasaan marah, kebiasaan iri, kebiasaan dendam, kebiasaan bergosip, kebiasaan berpikir negatif, kebiasaan menunda pekerjaan, kebiasaan begadang, kebiasaan terlalu lama duduk, kebiasaan kurang berolahraga, kebiasaan makan junk food bisa diubah namun membutuhkan waktu, tidak bisa instan, perlu bertahap hingga akhirnya fasih dan terampil dengan kebiasaan baru yang lebih sehat. Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda- beda untuk berubah. Dalam kasus ekstrem, sebuah kebiasaan bisa berhenti dengan segera misal karena sakit atau menghadapi bahaya.Jadi, jika kita mendapati diri belum bisa maksimal berubah, tetaplah menjadi supporter terbaik bagi diri sendiri. Dengan penuh welas asih sampaikan pada diri, “kamu sudah mencoba, lanjutkan lagi” .
  1. Pilih Paling Mudah Dulu
Setelah didata, ternyata banyak kebiasaan yang tidak sehat yang perlu diubah. Kita fokus dulu untuk menghentikan 1 kebiasaan. Pilih 1 dulu kebiasaan yang mudah untuk dihentikan. Misalnya kita targetkan dalam bulan Ramadhan minggu ini kita akan mengubah kebiasaan melihat smartphone ketika bangun tidur.
  1. Tahu Alasan
Alasan untuk berubah yang muncul dari kesadaran diri sendiri bukan karena paksaan atau permintaan orang lain jauh lebih efektif. Miliki alasan berubah karena kita menyayangi tubuh kita, karena kita ingin lebih bersyukur sebagai manusia dengan merawat pemberian Tuhan. Sebagai contoh, kita ingin mengubah kebiasaan buruk yaitu kebiasaan berpikir negatif. Kita ingin sekali mengubahnya karena kebiasaan ini sangat mengganggu kesehatan jiwa dan raga. Pikiran negatif membuat kita kehabisan enerji meski kita tidak melakukan kegiatan apapun. Fisik melemah, tidur tidak pulas, hidup pun tidak produktif. Berpikirnegatif memberi aliran enerji negatif dalam tubuh, sehingga mudah lelah dan sakit. Berpikir negatif membuat daya tahan tubuh menurun, asam lambung naik, tekanan darah naik, gula darah naik, wajah cepat tua, dan hidup tidak bahagia. Dengan mengetahui alasan-alasan mengapa kita harus berubah, maka kita akan semakin konsisten untuk mencapai kebahagiaan.
  1. Komitmen
Setelah memiliki alasan mengapa harus berubah, selanjutnya berniatlah untuk berubah. Tanamkan pada diri bahwa kita akan berubah menuju kebiasaan sehat. Jika perlu tuliskan dalam jounal atau buku catatan harian Anda. Rayakan momen tersebut. Aliri dengan enerji positif untuk berubah.
  1. Replacement Habit
Ganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih sehat. Misalnya Anda terbiasa cemberut, maka setelah mengetahui alasan kenapa harus berubah, lalu berniat kuat, maka gantilah kebiasaan cemberut itu dengan tersenyum. Gantilah kebiasaan membuka smartphone ketika bangun tidur dengan minum air putih pelan-pelan sambil duduk lalu memejamkan mata dan bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Setelahnya kita bisa mengambil air wudhu dan kalau muslim bisa dilanjutkan dengan sholat malam (tahajud). Hah indah dan nikmat. Mengawali hari dengan enerji positif.
  1. Pause
Bagaimana jika muncul kembali keinginan untuk melakukan kebiasaan lama? Jika kembali muncul cemberutnya, muncul keinginan berpikir negatif, muncul keinginan berkata kasar.. saatnya tekan tombol PAUSE. Saat menekan tombol pause , kita ingat-ingat lagi, kenapa kita ingin berubah?? Nyalakan mantra dalam hati , “Aku bisa, Aku pasti bisa, Aku ingin sehat, Aku ingin bahagia”, ucapkan terus menerus sampai kita lewati momen godaan tersebut lalu ucapkan “Yes, selamat Anda lulus ujian”.
  1. Practice makes perfect
Semakin diulang, semakin lancar, semakin terpola menjadi kebiasaan.Sejalan dengan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki, kesadaran kita bisa berubah. Kesadaran ini membuat kita melakukan tindakan yang berbeda dari sebelumnya, dan akhirnya mengubah kebiasaan (habit) kita. ”Your belief become your thoughts. Your words become your actions. Your words become your habits. Your habits become your values. Your values become yur destiny” (Mahatma Gandhi). Semoga teman-teman berhasil secara bertahap membentuk kebiasaan baru yang sehat. Stay Happy, Stay Healthy Tanpa NarkobaHerlina RahmawatiPenyuluh Narkoba Ahli Petama BNNP DIY  


Senin, 27 April 2020

Stay Happy and Healthy di Masa Pandemi

Pada situasi pandemi seperti sekarang ini, wajar jika banyak dari kita merasa cemas, kuatir, takut, dan paranoid. Namun perlu diingat, rasa cemas yang berlebihan dan terus menerus justru akan mengurangi daya tahan tubuh atau body immunity. Akibatnya tubuh rentan sakit.Nah berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menguatkan body immunity dan tentunya tetap happy.

  1. MEDIA DIET
Perasaan cemas dan kuatir  semakin menjadi–jadi ketika kita banyak mengkonsumsi informasi yang menakutkan dari TV maupun media sosial. Mengurangi paparan informasi yang negatif, menjauhkan kita dari rasa kuatir. Bonusnya, imunitas tubuh tetap terjaga baik.
  1. BERJEMUR
Hikmah pandemi salah satunya membuat banyak diantara kita semakin sadar pentingnya berjemur di bawah sinar matahari. Kalau sebelumnya, kita berjemur hanya pada saat sakit flu, sekarang saatnya kita luangkan waktu berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi selama 15 menit, terutama setelah jam 09.00 WIB.  Sinar matahari memiliki manfaat begitu banyak. Prof. Dr. dr Siti Setiati, SpPD-Kger, M. Epid, FINASIM dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan, sinar matahari pada jam 09.00 WIB memiliki ultraviolet B yang dibutuhkan untuk mengubah vitamin D3 menjadi vitamin D aktif. Temuan ini didapatkan Dr. Siti Setiati dari penelitian yang pernah dilakukannya berjudul Pengaruh Papanan Sinar Matahari terhadap Konsentrasi Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroit pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia. Nah apakah Anda sudah sudah rutin berjemur setiap hari? Jika sudah, Anda pasti bisa merasakan betapa nikmatnya tubuh menjadi segar saat disinari matahari, dan itu gratis.
  1. DEEP BREATHING - RELAXING
Ini benar-benar harus dicoba, manfaatnya luar biasa. Coba sekali waktu, cari tempat paling nyaman di rumah, lalu duduk dengan relax sambil mata terpejam.  Mulailah ambil nafas  dalam 4 hitungan, tahan nafas 7 hitungan, kemudian hembuskan dengan membuat suara “whoosh” dalam 8 hitungan. Metode ini dikenal dengan teknik pernapasan 4-7-8. Teknik ini memungkinkan oksigen mengisi paru – paru kita dengan lebih baik. Anda bisa fokus pada masuk dan keluarnya udara saat bernafas.  Anda bisa lakukan saat bangun pagi, saat akan tidur, atau kapan pun Anda membutuhkannya.  Ulangi selama 6 sampai 12 putaran.Sesungguhnya banyak teknik bernafas untuk relaksasi yang bisa kita lakukan. Teknik bernafas lain yang bisa dipilih ialah duduk se-nyaman dan se-relax mungkin. Ambil nafas panjang 5 hitungan, keluarkan dengan hidung 7 hitungan, dan keluarkan sisanya dengan mulut dalam 8 hitungan.  Anda bisa lakukan sambil bersyukur kepada Tuhan atas semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita. Ketika mata terbuka kembali, Anda akan diliputi perasaan nyaman, relax dan tenang. Coba ya!!
  1. MENYALURKAN RASA CINTA PADA SENI
Anda suka mendengarkan musik atau bahkan memainkan musik? Suka menari? Atau mungkin ingin belajar melukis? Mencintai seni adalah fitrah manusia. Manusia terlahir untuk mencintai keindahan. Saat ini telah banyak kelas online untuk belajar memainkan alat musik, melukis, dan menari.
  1. BERCOCOK TANAM
Merawat tanaman hias kemudian meletakkannya di pot yang cantik di sudut favorit rumah dapat membuat mood  menjadi baik. Selain tanaman hias, menanam tanaman pangan juga bisa jadi pilihan bermanfaat. Selain tubuh menjadi tetap aktif bergerak, juga  membuat kita dapat lebih berhemat, terutama di saat butuh bahan makanan untuk dimasak. Lahan terbatas sekarang tak jadi masalah. Sudah banyak metode menanam untuk lahan terbatas.
  1. COBA RESEP MASAKAN.
Kalau selama ini buku resep masakan sudah lama tidak terjamah alias nganggur, kini saatnya dibuka kembali. Kita coba resep menu masakan restoran favorit  yang selama ini bikin penasaran. Hasilnya bisa dinikmati dan disajikan untuk keluarga. Keluarga Anda pasti makin cinta.
  1. BEBERES RUMAH
Siapa yang sekarang makin rajin beres-beres rumah? Senang pastinya kan melihat rumah bersih dan tertata indah? Saat bersih-bersih rumah,  badan aktif bergerak, berkeringat, sehat, dan hasilnya rumah-pun nyaman dan sedap dipandang. Nah inilah 7 hal yang bisa dilakukan untuk tetap sehat dan bahagia selama physcial distancing #dirumahaja.  Jika pikiran kita positif, perasan kita bahagia, hormon positif akan aktif bekerja, tubuhpun akan sehat. Stay happy, stay healthy, dan tetap jauhi Narkoba. Selamat mencoba. Herlina Rahmawati, SIPPenyuluh Anti Narkoba Ahli Pertama BNNP DIY   


Kamis, 26 Maret 2020

AYO, LAKUKAN TIGA BERANI

  Indonesia darurat narkoba!Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo pada tahun 2015.Pernyataan yang bermakna sangat dalam. Menggambarkan keseriusan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Makna darurat bisa diartikan harus segera ditangani, dan akan mengakibatkan masalah yang serius apabila tidak segera diatasi. Jika kita melihat di rumah sakit, maka ruang gawat darurat pastilah berada di bagian paling depan dan paling mudah diakses oleh pasien. Penanganan di ruangan gawat darurat juga dilakukan dengan sangat cermat dan cepat karena menyangkut keselamatan nyawa pasien. Maka pada saat Presiden menyampaikan bahwa Indonesia dalam keadaan darurat narkoba, tentu bukan sekedar pernyataan biasa, melainkan berdasar pada fakta yang ada. Bahwa narkoba memiliki daya rusak yang sangat serius bahkan mungkin melebihi korupsi dan terorisme, karena narkoba merusak otak yang tidak ada jaminan sembuh. Narkoba juga menjerat hampir semua lapisan masyarakat, baik dari masyarakat ekonomi rendah, menengah, maupun atas. Juga melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang pekerjaan. Wilayah sebaran narkoba juga telah meluas ke seluruh penjuru tanah air dan bukan hanya terpusat di kota, melainkan telah masuk ke pedesaan. Bahkan yang membuat keprihatinan makin meningkat adalah bahwa narkoba telah menyasar ke anak-anak sebagai usaha para bandar meregenerasi pangsa pasarnya. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta adalah pasar yang empuk untuk bisnis yang haram ini. Kerugian yang harus ditanggung negara akibat permasalahan narkoba mencapai lebih dari 63 trilyun, angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba juga berpotensi terjadinya loss generation karena usia produktif adalah sasaran utamanya. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah banyaknya bermunculan narkoba jenis baru atau NPS (New Psychoactive Substances) dengan modus peredaran yang semakin beragam dan tdak terprediksi. Kepala BNN RI, Komjen.Pol.Drs. Heru Wijanarko, S.H menyampaikan bahwa saat ini terdapat 803 jenis NPS di seluruh dunia dimana 74 jenis telah beredar di Indonesia dan beberapa telah masuk dalam lampiran Permenkes Nomor 20 tahun 2018 (disampaikan di ITB saat mengisi kuliah umum pada tanggal 2 Oktober 2019). Lalu bagaimana masyarakat menyikapi hal ini?Ada beberapa sikap yang mungkin diambil.Satu, proaktif dan responsif, dengan langsung mengambil peran aktif dalam upaya penyelesaian masalah. Berpikir dengan kreatif tentang apa yang mungkin dilakukan dalam berperan nyata mengatasi masalah narkoba. Selalu berusaha mengambil bagian, dalam setiap kesempatan, memberikan sumbangsih entah berupa tenaga, dana, pemikiran/gagasan/ide, atau bahkan ketiganya, tanpa memikirkan imbalan apa yang akan didapat. Sikap seperti ini pastilah didorong oleh rasa kemanusiaan yang sangat tinggi, jiwa sosial, kepekaan terhadap permasalahan orang lain apalagi permasalahan negara, dan pastilah tidak diragukan lagi bagaimana level nasionalismenya.Dua, sikap oppurtunis. Jika mendatangkan keuntungan maka akan dilakukan. Apa yang dilakukan mungkin sedikit banyak membantu mengentaskan permasalahan narkoba, tetapi jika hal tersebut memberikan keuntungan dan nilai tambah untuk diri sendiri.Tiga, sikap apatis. Tidak peduli, acuh, tidak mau tahu tentang permasalahan narkoba. Meskipun mungkin memiliki kemampuan untuk berperan serta, tetapi karena sikap acuh membuat akhirnya sama sekali tidak peduli. Yang penting diri sendiri aman, keluarga aman, tidak ada yang terkena bahaya penyalahgunaan narkoba, maka tidak ada alasan untuk ikut campur mengurus masalah ini.Mari kita menengok ke diri sendri. Termasuk yang manakah sikap yang kita ambil? Apakah kita termasuk  yang bersikap proaktif, opportunis, atau apatis?Dalam beberapa kesempatan memberikan penyuluhan di berbagai lapisan masyarakat, saya sering mendapatkan pertanyaan semacam ini, ”Bu, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi permasalahan narkoba, terutama di lingkungan sekitar kita?” Banyak sekali dari kita yang bingung harus melakukan apa. Tidak sedikit juga yang takut untuk mengambil peran aktif. Takut menjadi sasaran bandar, takut mendapat kesulitan dan tekanan dari masyarakat, bahkan justru menutupi jika salah satu keluarganya kecanduan narkoba, karena menganggap itu adalah aib. Padahal, mustahil permasalahan narkoba di Indonesia akan tuntas teratasi jika hanya mengandalkan aparat penegak hukum atau lembaga berwenang seperti BNN misalnya. Diperlukan peran serta seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.Dalam hal apa? Minimal dalam tiga hal. Saya lebih senang menyebutnya dengan TIGA BERANI.SATU, berani berkata TIDAK pada setiap tawaran penyalahgunaan narkoba. Apapun kondisi dan situasi kita, sedang tertekan ataupun stres karena masalah hidup, narkoba sama sekali bukan jawaban dan justru membuat semakin terpuruk. Bagi masyarakat yang masih sehat dan imun, keberanian untuk selalu berkata TIDAK pada tawaran menyalahgunakan narkoba akan membuat demand terhadap narkoba menurun, sehingga bandar akan pergi mencari pasar lain yang lebih menjanjikan.DUA, berani BEROBAT/REHABILITASI bagi yang telah terlanjur kecanduan. Jangan pernah berpikir bahwa kecanduan narkoba adalah aib yang harus ditutupi. Keberanian untuk datang ke tempat rehabilitasi atau layanan kesehatan yang memiliki fasilitas penanganan kecanduan narkoba, akan membuat pecandu pulih dan mampu menjadi manusia yang sehat dan produktif. Di Yogyakarta ada lebih dari 10 Institusi Penerima wajib Lapor (IPWL) yang tersebar di wilayah Yogyakarta dan siap membantu proses pemulihan pecandu narkoba.TIGA, berani MELAPOR jika menemui ada kecurigaan adanya peredaran gelap narkoba di sekitar kita. Entah di tempat kerja, sekolah, kampus, maupun di lingkungan pemukiman kita. Kemana harus melapor? Bisa ke kantor kepolisian setempat atau melapor pada BNNK Yogyakarta, BNNK Sleman, BNNK Bantul, maupun BNNP DIY. Percayalah, laporan dari masyarakat sangat membantu tugas pemberantasan peredaran gelap narkoba yang ada di wilayah kita. Jika kita cuek dan tidak peduli, meski meihat ada peredaran gelap nakoba di sekitar kita, maka sama saja kita turut memperparah permasalahan narkoba di Indonesia. Inilah tantangan kita bersama.Beranikah kita melaksanakan tiga hal tersebut?Saya berani.Bagaimana dengan anda? Santy Dwi K, AMK, SKMPenyuluh narkoba BNNP DIY Tulisan ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat akhir November 2017  


Kamis, 30 Januari 2020

Mekanisme Asesmen Terpadu Terhadap Penyalah Guna Narkotika Ditinjau Dari Perspektif Kebijakan Hukum Pidana

Mekanisme asesmen terpadu penyalah guna narkotika merupakan bentuk implementasi keprihatinan terhadap penanganan penyalah guna Narkotika di Indonesia. Penyalah guna narkotika berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ibarat orang berdiri pada dua kaki, satu kaki berada pada dimensi kesehatan, kaki lainnya pada dimensi hukum. Pada dimensi kesehatan, penyalah guna narkotika diumpamakan sebagai orang sakit kronis bersifat candu, harus disembuhkan melalui rehabilitasi sedangkan pada dimensi hukum, penyalah guna adalah kriminal yang harus dihukum karena melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Oleh karena itu, terhadap perkara penyalah guna, UU Narkotika memberikan solusi dengan mengintegrasikan dua pendekatan tersebut melalui hukuman rehabilitasi.

Integrasi dua pendekatan tersebut dilakukan melalui mekanisme asesmen terpadu yang di dalamnya akan menghasilkan rekomendasi dapat atau tidaknya tersangka direhabilitasi. Pelaksanaan mekanisme asesmen terpadu berlandaskan beberapa peraturan, di antaranya Peraturan Bersama antara BNN dengan Mahkumjakpol, Kemenkes dan Kemensos tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Ke dalam Lembaga Rehabilitasi, Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 2010 tentang Penempatan Penyalahgunaan, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi Medis dan Rehabilitasi Sosial, Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 11 Tahun 2014 tentang Tata Cara Penanganan Tersangka dan/atau Terdakwa Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi, Peraturan Jaksa Agung Nomor 29 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi serta Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Wajib Lapor dan Rehabilitasi Medis bagi Pecandu, Penyalah guna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika.Mekanisme asesmen terpadu menjadi penting untuk dianalisis melalui perspektif Kebijakan Hukum Pidana, dengan berpedoman pada Ius Constitutum, Ius Operatum dan Ius Constituendum. Ditinjau dari tahap formulasi, tahap aplikasi dan tahap eksekusi segi keterlibatan para aparat penegak hukum, baik penyidik, penuntut umum, hakim, dalam mekanisme asesmen terpadu menjadi tantangan tersendiri untuk menyelesaikan problematika yang muncul di dalamnya dikarenakan lintas instansi, baik dari segi peraturan teknis maupun penerapannya.Mekanisme asemen terpadu yang memadukan hasil analisa antara tim medis dan tim hukum terhadap penentuan tersangka tindak pidana narkotika apakah termasuk kategori penyalah guna narkotika atau pengedar narkotika, memiliki peran penting terutama sebagai proses screening bagi pengkategorian status penyalah guna narkotika dan atau pengedar narkotika, sehingga dapat dianalisa sebagai bagian proses kebijakan hukum pidana melalui analisa mendalam. Begitu pula dalam melihat kedudukan tersangka/terdakwa penyalah guna narkotika sebagai orang sakit atau sebagai pelaku tindak pidana dengan menyertakan proses rehabilitasi selama persidangan dapat menjadi pertimbangan bagi hakim untuk memutus perkara tersebut dengan pidana penjara atau pidana rehabilitasi.Penjatuhan vonis hakim berupa vonis rehabilitasi masih relatif jarang. Sebagian besar penyalah guna narkotika tidak dijatuhi vonis rehabilitasi sesuai yang disebutkan dalam Undang-Undang 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, melainkan dijatuhi vonis penjara meskipun ketentuan Undang-Undang Narkotika telah menjamin adanya upaya rehabilitasi, baik itu rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial sebagaimana diatur dalam Pasal 54, Pasal 56, Pasal 103, dan Pasal 127 Undang-Undang Narkotika. Hal ini dapat dilihat dari putusan terhadap kasus narkotika di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang melalui mekanisme asesmen terpadu, dari total 34 kasus menghasilkan putusan hakim berupa pidana penjara sebanyak 33 kasus setara dengan 97,05%. Hal ini sangat disayangkan, mengingat latar belakang adanya asesmen terpadu adalah agar ada sinkronisasi tindakan penegak hukum mulai dari tahap penyidikan, penuntutan dan persidangan sampai dengan vonis adalah tindakan rehabilitasi.Kebijakan Hukum Pidana memiliki ruang lingkup yang luas. Aspek ini berorientasi pada kenyataan bahwa kebijakan hukum pidana berupa penanggulangan kejahatan dengan sarana “penal” sebagai bentuk penal policy atau penal law enforcement policy dilaksanakan melalui tahap-tahap yang terdiri dari Tahap formulasi, yaitu tahap penegakan hukum in abstracto oleh badan pembuat undang-undang. Tahap ini disebut juga tahap legislasi. Tahap aplikasi, yaitu tahap penerapan hukum pidana oleh aparat penegak hukum mulai dari kepolisian sampai pengadilan. Tahap eksekusi, yaitu pelaksanaan hukum pidana secara konkrit oleh aparat pelaksana pidana. Tahap ini dapat disebut tahap kebijakan ekseskutif atau administrasi.Terdapat 10 (sepuluh) kelemahan pengaturan asesmen terpadu tehadap penyalah guna Narkotika yaitu Pertama,  Kontradiksi pengaturan Pasal tentang rehabilitasi dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Kedua, Cakupan jenis narkotika dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010, tidak mengikuti perkembangan jenis narkotika terbaru, Ketiga, Inkonsistensi Istilah Penyalah guna, Korban Penyalahgunaan dan Pecandu antara SEMA Nomor 4 Tahun 2010 dengan Peraturan Bersama 7 (tujuh) lembaga negara, PERJA Nomor 29 Tahun 2015 dan PERKA BNN Nomor 11 Tahun 2014, Keempat, Klasifikasi istilah “ Tertangkap Tangan”  dalam SEMA Nomor 4 Tahun 2010 bersifat multi tafsir, Kelima, Perbedaan persyaratan hasil pemeriksaan laboratorium dan tempat rehabilitasi dalam pengaturan antara Peraturan Bersama 7 (tujuh) lembaga negara Tahun 2014 dengan Peraturan Kepala BNN Nomor 11 Tahun 2014, Keenam, Ketidaksinkronan pengaturan awal mulai perhitungan batas waktu dikeluarkannya hasil asesmen dari Tim Asesmen Terpadu antara Peraturan Bersama 7 (tujuh) lembaga negara Tahun 2014 dengan Peraturan Kepala BNN Nomor 11 Tahun 2014, Ketujuh, Penggunaan kata “ Dapat ditempatkan” dalam Peraturan Bersama 7 (tujuh) lembaga Negara kontradiksi dengan Peraturan Jaksa Agung Nomor 29 Tahun 2015 yang menghilangkan penggunaan kata “dapat” dalam hal penempatan Tersangka dan/atau Terdakwa Narkotika ke Lembaga Rehabilitasi, Kedelapan, Pengaturan secara sektoral mengenai residivis narkotika dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor 29 Tahun 2015, bukan merupakan amanat dari Peraturan Bersama 7 (tujuh) lembaga negara, Kesembilan, Perbedaan standar lama jangka waktu rehabilitasi dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 50 Tahun 2015 dengan SEMA Nomor 4 tahun 2010, Kesepuluh, pembatasan jangka waktu rehabilitasi sebelum putusan Hakim dibatasi maksimal 3 (tiga) bulan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 50 Tahun 2015.Tahap Aplikasi menggunakan Teori Sistem Hukum (legal system theory) untuk pisau analisis sebagai grand theory. Lawrence M. Friedman, dalam bukunya yang berjudul “ The Legal System A Social Sciense Perspective”, menyebutkan bahwa sistem hukum terdiri atas perangkat struktur hukum, substansi hukum (perundang-undangan) dan kultur hukum atau budaya hukum. Sistem hukum harus memuat Legal Substance, Legal Structure dan Legal Culture. (Lawrence M. Friedman, 1984).Kendala dalam Faktor Substansi Hukum (Legal Substance), melihat pada suatu pengaturan asesmen terpadu, yang memiliki 10 (sepuluh) kelemahan sebagaimana disebut sebelumnya sehingga menyebabkan kendala berupa kekhawatiran penyidik dalam penerapan pasal tunggal, timbul penolakan dari Tim Asesmen Terpadu untuk mengasesmen terpadu, perbedaan pandangan terkait ketentuan yang multi tafsir, timbul celah bagi “oknum penyidik” untuk memanfaatkan perbedaan istilah, keraguan penyidik dalam bertindak, ketidaktaatan penegak hukum dalam menempatkan penyalah guna ke dalam lembaga rehabilitasi, tidak adanya kepastian hukum, inkonsistensi, ketidaksinergisan dalam penerapan pengaturan, timbul ego sektoral yang menyulitkan dalam case conference, kesulitan Hakim dalam memutus jangka waktu yang sesuai bagi penyalah guna Narkotika, menimbulkan kesulitan dalam penentuan tanggung jawab pembiayaan rehabilitasiKendala dalam faktor Struktur Hukum (Legal Structure), berdasarkan hasil wawancara di lapangan yang dianalisa dengan teori terkait maka Penulis merumuskan kendala penerapan asemen terpadu bagi penyalah guna narkotika, apabila dipandang dari faktor struktur hukum (legal structure) yaitu mental dan moral aparat terkait belum memadai, kesejahteraan aparat penegak hukum yang menangani masalah narkotika masih rendah sehingga mudah tergiur untuk bekerja sama dengan bandar, jumlah aparat hukum kurang memadai dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk Indonesia, profesionalisme aparat penegak hukum kurang memadai, masih mengedepankan ego sektoral sehingga koordinasi tidak terintegrasi, orientasi aparat penegak hukum masih berfokus pada pemidanaan bukan ke rehabilitasi, kekhawatiran penyidik serta jaksa bahwa tersangka dan atau terdakwa akan melarikan diri dari lembaga rehabilitasi dan menjadi DPO.Kendala dalam faktor Budaya Hukum (Legal Culture), dapat terlihat dari budaya hukum di masyarakat bahwa dengan adanya pemidanaan maka tersangka akan menjadi jera. Padahal terhadap penyalah guna, pidana penjara tidak tepat karena penyalah guna sebagai “orang sakit” lebih membutuhkan rehabilitasi untuk menyembuhkan sakitnya tersebut.Prospek pengaturan asesmen terpadu terhadap penyalah guna narkotika di masa mendatang, maka kebijakan hukum pidana akan melihat seberapa jauh ketentuan-ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah dan diperbarui. Pembaruan hukum pidana (penal reform) juga merupakan bagian dari kebijakan/politik hukum pidana (penal policy). Makna dari pembaruan hukum pidana itu sendiri pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk melakukan  reorientasi dan reformasi hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosiopolitik, sosiofilosofis, dan sosiokultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial. (Barda Nawawi, 2010).Penyempurnaan dan perbaikan pengaturan asesmen terpadu dengan cara mensinkronkan Pasal yang overlapping, melakukan pembahasan dengan seluruh instansi terkait sehingga dihasilkan persamaan persepsi untuk mengutamakan rehabilitasi dibandingkan pemidanaan penjara terhadap penyalah guna narkotika dalam mewujudkan usaha perlindungan kesejahteraan masyarakat (social welfare) serta cita-cita bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kepastian hukum menjadi perangkat hukum suatu negara yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara sesuai dengan budaya masyarakat yang ada. Terkait dengan hal tersebut tentunya formulasi pengaturan mekanisme asesmen terpadu terhadap penyalah guna narkotika, harus menjunjung tinggi dan sesuai dengan prinsip-prinsip kepastian hukum seperti tidak saling bertentangan, tidak multi tafsir dan dirumuskan secara jelas (lex certa).Kebijakan Hukum Pidana melalui pendekatan humanis yaitu berupa tindakan rehabilitasi melalui mekanisme asemen terpadu harus diutamakan baik dari segi formulasi pengaturan, aplikasi dan eksekusi asesmen tersebut terhadap penyalah guna narkotika. Sebagaimana dinyatakan oleh Barda Nawawi Arif (Barda Nawawi Arif, 2010), bahwa :“Terlebih lagi bagi Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan garis kebijakan nasionalnya bertujuan membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Apabila pidana akan digunakan sebagai sarana tujuan tersebut maka pendekatan humanistis harus pula diperhatikan. Hal ini penting tidak hanya karena kejahatan itu, pada hakikatnya merupakan masalah kemanusiaan, tetapi juga karena pada hakikatnya pidana itu sendiri mengandung unsur penderitaan yang dapat menyerang kepentingan atau nilai yang paling berharga bagi kehidupan manusia.”Mekanisme asesmen terpadu yang lahir dari keprihatinan penanganan penyalah guna narkotika, diharapkan dapat menjadi gerbang utama untuk pembangunan di bidang hukum yang lebih humanis dalam bentuk penegakan hukum terhadap penyalah guna narkotika di masa mendatang. Dayu Purnama Adianingsih, S.H., M.H.  


Senin, 27 April 2020

Stay Happy and Healthy di Masa Pandemi

Pada situasi pandemi seperti sekarang ini, wajar jika banyak dari kita merasa cemas, kuatir, takut, dan paranoid. Namun perlu diingat, rasa cemas yang berlebihan dan terus menerus justru akan mengurangi daya tahan tubuh atau body immunity. Akibatnya tubuh rentan sakit.Nah berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menguatkan body immunity dan tentunya tetap happy.

  1. MEDIA DIET
Perasaan cemas dan kuatir  semakin menjadi–jadi ketika kita banyak mengkonsumsi informasi yang menakutkan dari TV maupun media sosial. Mengurangi paparan informasi yang negatif, menjauhkan kita dari rasa kuatir. Bonusnya, imunitas tubuh tetap terjaga baik.
  1. BERJEMUR
Hikmah pandemi salah satunya membuat banyak diantara kita semakin sadar pentingnya berjemur di bawah sinar matahari. Kalau sebelumnya, kita berjemur hanya pada saat sakit flu, sekarang saatnya kita luangkan waktu berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi selama 15 menit, terutama setelah jam 09.00 WIB.  Sinar matahari memiliki manfaat begitu banyak. Prof. Dr. dr Siti Setiati, SpPD-Kger, M. Epid, FINASIM dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan, sinar matahari pada jam 09.00 WIB memiliki ultraviolet B yang dibutuhkan untuk mengubah vitamin D3 menjadi vitamin D aktif. Temuan ini didapatkan Dr. Siti Setiati dari penelitian yang pernah dilakukannya berjudul Pengaruh Papanan Sinar Matahari terhadap Konsentrasi Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroit pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia. Nah apakah Anda sudah sudah rutin berjemur setiap hari? Jika sudah, Anda pasti bisa merasakan betapa nikmatnya tubuh menjadi segar saat disinari matahari, dan itu gratis.
  1. DEEP BREATHING - RELAXING
Ini benar-benar harus dicoba, manfaatnya luar biasa. Coba sekali waktu, cari tempat paling nyaman di rumah, lalu duduk dengan relax sambil mata terpejam.  Mulailah ambil nafas  dalam 4 hitungan, tahan nafas 7 hitungan, kemudian hembuskan dengan membuat suara “whoosh” dalam 8 hitungan. Metode ini dikenal dengan teknik pernapasan 4-7-8. Teknik ini memungkinkan oksigen mengisi paru – paru kita dengan lebih baik. Anda bisa fokus pada masuk dan keluarnya udara saat bernafas.  Anda bisa lakukan saat bangun pagi, saat akan tidur, atau kapan pun Anda membutuhkannya.  Ulangi selama 6 sampai 12 putaran.Sesungguhnya banyak teknik bernafas untuk relaksasi yang bisa kita lakukan. Teknik bernafas lain yang bisa dipilih ialah duduk se-nyaman dan se-relax mungkin. Ambil nafas panjang 5 hitungan, keluarkan dengan hidung 7 hitungan, dan keluarkan sisanya dengan mulut dalam 8 hitungan.  Anda bisa lakukan sambil bersyukur kepada Tuhan atas semua nikmat yang dianugerahkan kepada kita. Ketika mata terbuka kembali, Anda akan diliputi perasaan nyaman, relax dan tenang. Coba ya!!
  1. MENYALURKAN RASA CINTA PADA SENI
Anda suka mendengarkan musik atau bahkan memainkan musik? Suka menari? Atau mungkin ingin belajar melukis? Mencintai seni adalah fitrah manusia. Manusia terlahir untuk mencintai keindahan. Saat ini telah banyak kelas online untuk belajar memainkan alat musik, melukis, dan menari.
  1. BERCOCOK TANAM
Merawat tanaman hias kemudian meletakkannya di pot yang cantik di sudut favorit rumah dapat membuat mood  menjadi baik. Selain tanaman hias, menanam tanaman pangan juga bisa jadi pilihan bermanfaat. Selain tubuh menjadi tetap aktif bergerak, juga  membuat kita dapat lebih berhemat, terutama di saat butuh bahan makanan untuk dimasak. Lahan terbatas sekarang tak jadi masalah. Sudah banyak metode menanam untuk lahan terbatas.
  1. COBA RESEP MASAKAN.
Kalau selama ini buku resep masakan sudah lama tidak terjamah alias nganggur, kini saatnya dibuka kembali. Kita coba resep menu masakan restoran favorit  yang selama ini bikin penasaran. Hasilnya bisa dinikmati dan disajikan untuk keluarga. Keluarga Anda pasti makin cinta.
  1. BEBERES RUMAH
Siapa yang sekarang makin rajin beres-beres rumah? Senang pastinya kan melihat rumah bersih dan tertata indah? Saat bersih-bersih rumah,  badan aktif bergerak, berkeringat, sehat, dan hasilnya rumah-pun nyaman dan sedap dipandang. Nah inilah 7 hal yang bisa dilakukan untuk tetap sehat dan bahagia selama physcial distancing #dirumahaja.  Jika pikiran kita positif, perasan kita bahagia, hormon positif akan aktif bekerja, tubuhpun akan sehat. Stay happy, stay healthy, dan tetap jauhi Narkoba. Selamat mencoba. Herlina Rahmawati, SIPPenyuluh Anti Narkoba Ahli Pertama BNNP DIY   


Jumat, 15 Mei 2020

Ramadhan untuk Perubahan

Ramadhan kali ini memang berbeda, bahkan teramat berbeda, so special. Semua dianjurkan untuk #dirumahsaja, bekerja di rumah, bermain di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Dalam momen puasa Ramadhan yang banyak #dirumahsaja ini kita bisa mengambil kesempatan untuk pelan-pelan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang sehat.Semangat Ramadhan adalah semangat perubahan menuju kebaikan dengan mengubah kebiasaan. Nah hal apa saja yang perlu kita perhatikan ketika kita sudah berniat untuk mengubah kebiasaan kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang sehat? Berikut ini diantaranya:

  1. Pelan-Pelan dan Bertahap
Beranjak dari zona nyaman yang telah bertahun-tahun menjadi kebiasaan memang tidak mudah. Apakah bisa? Bisa! Kebiasaan melihat smartphone ketika bangun tidur, kebiasaan bermalas-malasan, kebiasaan berkacak pinggang saat bicara, kebiasaan cemberut, kebiasaan berbicara kasar, kebiasaan membandingkan dengan kehidupan orang lain, kebiasaan marah, kebiasaan iri, kebiasaan dendam, kebiasaan bergosip, kebiasaan berpikir negatif, kebiasaan menunda pekerjaan, kebiasaan begadang, kebiasaan terlalu lama duduk, kebiasaan kurang berolahraga, kebiasaan makan junk food bisa diubah namun membutuhkan waktu, tidak bisa instan, perlu bertahap hingga akhirnya fasih dan terampil dengan kebiasaan baru yang lebih sehat. Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda- beda untuk berubah. Dalam kasus ekstrem, sebuah kebiasaan bisa berhenti dengan segera misal karena sakit atau menghadapi bahaya.Jadi, jika kita mendapati diri belum bisa maksimal berubah, tetaplah menjadi supporter terbaik bagi diri sendiri. Dengan penuh welas asih sampaikan pada diri, “kamu sudah mencoba, lanjutkan lagi” .
  1. Pilih Paling Mudah Dulu
Setelah didata, ternyata banyak kebiasaan yang tidak sehat yang perlu diubah. Kita fokus dulu untuk menghentikan 1 kebiasaan. Pilih 1 dulu kebiasaan yang mudah untuk dihentikan. Misalnya kita targetkan dalam bulan Ramadhan minggu ini kita akan mengubah kebiasaan melihat smartphone ketika bangun tidur.
  1. Tahu Alasan
Alasan untuk berubah yang muncul dari kesadaran diri sendiri bukan karena paksaan atau permintaan orang lain jauh lebih efektif. Miliki alasan berubah karena kita menyayangi tubuh kita, karena kita ingin lebih bersyukur sebagai manusia dengan merawat pemberian Tuhan. Sebagai contoh, kita ingin mengubah kebiasaan buruk yaitu kebiasaan berpikir negatif. Kita ingin sekali mengubahnya karena kebiasaan ini sangat mengganggu kesehatan jiwa dan raga. Pikiran negatif membuat kita kehabisan enerji meski kita tidak melakukan kegiatan apapun. Fisik melemah, tidur tidak pulas, hidup pun tidak produktif. Berpikirnegatif memberi aliran enerji negatif dalam tubuh, sehingga mudah lelah dan sakit. Berpikir negatif membuat daya tahan tubuh menurun, asam lambung naik, tekanan darah naik, gula darah naik, wajah cepat tua, dan hidup tidak bahagia. Dengan mengetahui alasan-alasan mengapa kita harus berubah, maka kita akan semakin konsisten untuk mencapai kebahagiaan.
  1. Komitmen
Setelah memiliki alasan mengapa harus berubah, selanjutnya berniatlah untuk berubah. Tanamkan pada diri bahwa kita akan berubah menuju kebiasaan sehat. Jika perlu tuliskan dalam jounal atau buku catatan harian Anda. Rayakan momen tersebut. Aliri dengan enerji positif untuk berubah.
  1. Replacement Habit
Ganti kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih sehat. Misalnya Anda terbiasa cemberut, maka setelah mengetahui alasan kenapa harus berubah, lalu berniat kuat, maka gantilah kebiasaan cemberut itu dengan tersenyum. Gantilah kebiasaan membuka smartphone ketika bangun tidur dengan minum air putih pelan-pelan sambil duduk lalu memejamkan mata dan bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Setelahnya kita bisa mengambil air wudhu dan kalau muslim bisa dilanjutkan dengan sholat malam (tahajud). Hah indah dan nikmat. Mengawali hari dengan enerji positif.
  1. Pause
Bagaimana jika muncul kembali keinginan untuk melakukan kebiasaan lama? Jika kembali muncul cemberutnya, muncul keinginan berpikir negatif, muncul keinginan berkata kasar.. saatnya tekan tombol PAUSE. Saat menekan tombol pause , kita ingat-ingat lagi, kenapa kita ingin berubah?? Nyalakan mantra dalam hati , “Aku bisa, Aku pasti bisa, Aku ingin sehat, Aku ingin bahagia”, ucapkan terus menerus sampai kita lewati momen godaan tersebut lalu ucapkan “Yes, selamat Anda lulus ujian”.
  1. Practice makes perfect
Semakin diulang, semakin lancar, semakin terpola menjadi kebiasaan.Sejalan dengan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki, kesadaran kita bisa berubah. Kesadaran ini membuat kita melakukan tindakan yang berbeda dari sebelumnya, dan akhirnya mengubah kebiasaan (habit) kita. ”Your belief become your thoughts. Your words become your actions. Your words become your habits. Your habits become your values. Your values become yur destiny” (Mahatma Gandhi). Semoga teman-teman berhasil secara bertahap membentuk kebiasaan baru yang sehat. Stay Happy, Stay Healthy Tanpa NarkobaHerlina RahmawatiPenyuluh Narkoba Ahli Petama BNNP DIY  


Jumat, 12 Juni 2020

Peer Counseling Dalam Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba pada Remaja

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba secara massive menyerang seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali pemuda dan remaja sebagai harapan masa depan bangsa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh BNN pada tahun 2018 angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar/mahasiswa sebesar 3,2% atau setara dengan dua juta jiwa. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat guna mewujudkan sumber daya manusia yang unggul menghadapi bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2030 sampai 2040. Peran kita bersama untuk membantu remaja saat ini keluar dari permasalahan yang mempengaruhi kemampuan jasmani dan rohani seperti keterpaparan dengan narkoba, pornografi, korupsi dan masalah lainnya.Menurut Santrock (2004) masa remaja adalah masa dimana terjadi transisi baik biologis, kognitif maupun sosial. Dalam hal hubungan dengan teman sebaya, Santrock (2003) mengemukaan bahwa remaja mulai belajar mengenai pola hubungan timbal balik melalui interaksi dengan temannya. Mereka mulai mengamati dan meneliti aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh teman sebaya dengan tujuan untuk mempermudah penyatuan individual dengan teman sebaya tersebut. Dari hal ini diketahui teman sebaya memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial individu remaja. Berangkat dari fakta ini, bukan tidak mungkin pemerintah akan megambil sikap lebih gencar terhadap upaya pencegahan narkoba dan rehabilitasi melalui peer support/ peer counseling. Pengalaman keberhasilan seorang remaja dalam bersikap, bertindak menolak narkoba dapat mempengaruhi remaja lain. Selain itu, pengalaman keberhasilan remaja pulih dari ketergantungan/ adiksi terhadap narkoba juga mampu mempengaruhi remaja lain untuk membantu pemulihan ketergantungannya.Peer counseling (konseling teman sebaya) muncul pertama kali tahun 1939 dengan konsep peer helping. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu penderita alkoholic (Carter,2005). Konsep tersebut menekankan bahwa pengalaman keberhasilan individu dalam mengatasi kecanduan alkohol dapat mempengaruhi individu lain untuk mengatasi kecanduan juga. Menurut Sujarwo, 2005 konseling teman sebaya merupakan metode tingkah laku saling memperhatikan dan saling membantu antara teman sebaya, dimana kegiatan tersebut dilakukan oleh individu non profesional dalam kegiatan sehari-hari. Keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan mendengarkan secara aktif serta kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Dalam hal ini kedudukan antara individu tersebut adalah sama atau setara.Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkoba apakah konsep peer counseling bisa diterapkan? Dewasa ini banyak sekali kita mendengar upaya yang dilakukan untuk memulihkan penyalahguna narkoba dengan cara konseling sebaya. Konseling sebaya diharapkan mampu mendukung upaya untuk memulihkan dan mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.Banyak penelitian mengenai konseling sebaya maupun dukungan sebaya dalam treatment adiksi yang menunjukkan adanya harapan keberhasilan. Namun data yang ada saat ini masih belum cukup untuk diambil kesimpulan secara global. Tapi tidak menutup kemungkinan jika hal ini dilakukan dan disertai dengan dukungan ilmiah dan jurnal-jurnal penelitian yang beragam, upaya kita bersama dalam menekan penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan remaja dapat dilakukan. Hal ini diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Tracy dan Wallace (2016).Namun perlu diingat juga, keterampilan peer support/ peer counseling harus memenuhi minimal dua aspek, yaitu keterampilan menjadi pendengar yang baik dan keterampilan dalam pemecahan permasalahan atau problem solving. Karena setiap individu tidak serta merta dapat menjadi pendengar yang baik dan problem solving baik.Beberapa tips bagaimana menjadi pendengar yang baik telah banyak dibahas di berbagai pembahasan. Secara umum pendengar yang baik harus mempu menahan diri memberi respon dan menunggu lawan bicara menyelesaikan bicaranya. Untuk menguatkan kembali pesan yang diterima, dapat melakukan pengulangan kembali apa yang telah disampaikan. Dapat juga menyampaikan umpan balik berupa pertanyaan yang diberikan kepada lawan bicara untuk menegaskan pesan. Hal ini juga untuk menghindari asumsi. Selama proses mendengar aktif harus selalu menunjukkan sikap tubuh yang menunjukkan ketertarikan pada apa yang disampaikan oleh lawan bicara. Hal ini akan memberi kesan bahwa lawan bicara adalah penting. Jagalah kontak mata dan posisi tubuh yang positif (dengan mencondongkan badan sedikit kearah lawan bicara serta duduk dengan level yang sama) selama berinteraksi. Apabila sedang dalam situasi kurang maksimal dalam mendengarkan, jangan ragu untuk menyampaikan. Misal sedang terburu-buru, atau harus melakukan satu pekerjaan terlebih dahulu. Sampaikan permintaan jeda/waktu sebentar untuk menyelesaikan pekerjaan. Keterampilan problem solving tidak muncul serta merta melainkan harus menjadi pembiasaan sejak dini. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi masalah serta menemukan cara penyelesaan terbaik yang efektif. Dalam keterampilan problem solving diperlukan beberapa keterampilan terkait diantaranya kemampuan mendengar aktif, menganalisa, meneliti, menciptakan kreatifitas, serta mengambil keputusan yang tepat.Keterampilan mendengar aktif dan problem solving sangat mendukung dalam memberikan peer support/ peer counseling. Dan proses ini sangat relevan dalam konteks penanganan penyalahgunaan narkoba, khususnya di kalangan remaja. Apapun itu, upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan remaja perlu kita dukung untuk mewujudkan kualitas SDM unggul sebagai generasi penerus bangsa yang bebas dari penyalahgunaan narkoba. (HK) Hindun Kurnia N, S.KMPenyuluh Narkoba BNNP DIY  


Suara Masyarakat


DATA STATISTIK BNNP DI Yogyakarta

0

Total Kasus Narkoba

0

Total Tersangka Kasus Narkoba

0

Total Pasien Penyalahgunaan

0

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

0

Jumlah Sebaran Informasi